Google
 

Wednesday, November 25, 2009

Wacana : Tetap Berhati-hati di Kendaraan Umum

Saya menjadi korban tindakan kriminal berupa perampasan telepon genggam di kendaraan umum yang biasa saya tumpangi dari rumah - kantor pp. Dari peristiwa yang saya alami, saya melihat ada dua trik yang dilakukan komplotan tersebut. Saya mengatakan komplotan karena pada trik yang pertama ada seorang yang jelas-jelas membantu seorang yang lain. Inilah trik yang dijalankan oleh mereka - semoga teman-teman (khususnya yang di Jakarta) waspada terhadap trik-trik semacam ini.

1. Seseorang dari mereka akan mengingatkan kepada kita "Hati-hati, Mas/Mbak. Handphonenya disimpan saja!" Ini rupanya kode buat komplotan itu beraksi. Jika kita diperingatkan seperti itu, artinya kita sudah diincar oleh mereka. Tanpa pikir panjang, apalagi mikir ongkos, mendingan kita segera turun dari kendaraan tersebut.
2. Menyebarkan pamflet Pengobatan Rematik / Arthristis ala Cina. Tepatnya pijat tradisional. Salah seorang dari mereka akan mempraktekkan pijatan tersebut kepada seseorang yang duduk tepat di sebelah korban (dia masih satu komplotan dengan si pemijat). Lalu si pemijat mulai mempraktekkan pijat itu kepada korban. Dia kemudian beralasan bahwa posisi dia memijat korban kurang enak, lalu meminta korban duduk agak ke tengah. Karena waktu itu saya tidak mau dipijat, dan tidak mau bergeser duduk ke tengah bangku panjang di belakang itu, seorang lain yang dari komplotan itu segera berdiri dan mau duduk di tempat saya duduk.
Jika trik ini berhasil, walhasil korban akan berada di tengah-tengah komplotan perampas itu. Karena satu orang berdiri di depan korban, seorang duduk di kiri korban, dan seorang lagi duduk di kanan korban. Ketika si pemijat memijat tangan kanan korban, maka orang yang duduk di sebelah kanan korban akan segera beraksi menguras saku sebelah kanan. Demikian sebaliknya.
Kemarin, saya sempat keluar dari kepungan mereka dan duduk di bangku lain di tengah. Inilah kesalahan saya, kenapa saya tidak langsung turun sebelum mereka beralih ke trik yang lain.
3. Berusaha mengamankan korban dari razia "teman-teman" mereka. Pada trik ini, mereka akan berkata keras-keras kepada penumpang bahwa kemarin atau tadi siang atau waktu yang telah lewat dari waktu korban naik kendaraan umum telah terjadi penusukan terhadap teman mereka. Biasanya mereka akan menyebutkan satu suku sebagai pihak yang disalahkan. Hal ini akan disamakan dengan wajah calon korban. Contoh, karena saya bermata sipit, tetapi berkulit coklat, mereka mengatakan sedang mencari wong Palembang! Lalu mereka akan bertanya kepada kita,"Kamu orang mana?" Setelah itu, seorang dari mereka akan duduk di dekat kita lalu memeriksa apakah kita membawa benda tajam atau senjata lain. Lalu dengan sigap si perampas itu akan memindah tangankan barang-barang yang korban bawa, tetapi dengan teknik seakan-akan dimasukkan kembali ke dalam tas korban. Setelah selesai, dia akan mengikat erat-erat tas korban. Hal ini dimaksudkan agar si korban tidak terlalu cepat menyadari bahwa barang-barang dia sudah lenyap.
Dengan trik inilah, mereka menyudutkan korban seolah-olah yang jadi "penjahatnya" adalah si korban. Hal ini dimaksudkan agar penumpang lain mengira ini adalah pertikaian antara para kriminal. Jadi mereka tidak akan berani melerai atau membantu korban. Dengan trik ini, saya berhasil disudutkan oleh mereka. Tas dibongkar, isi saku dikuras. Tapi, saya masih bisa berkelit dari mereka karena dompet (walau isinya kosong kecuali KTP dan beberapa Kartu Kredit yang sudah diblokir pihak Bank :D), dan uang sebesar lima ratus ribu rupiah aman dari penjarahan komplotan itu. Jadi yang sempat diambil hanya telepon genggam saja.
Ciri-ciri komplotan yang saya sinyalir naik dari terminal Blok M hingga turun di Fatmawati adalah :
1. Si Perampas / Si Pemijat = tinggi sekitar 170 cm, berhidung mancung, kulit coklat, berambut lurus hitam menutupi leher, berkumis. memakai topi warna merah. Dia membawa selebaran pengobatan pijat Cina berwarna hijau. ukuran pamflet kecil.
2. Si Pemindah duduk = tinggi sekitar 170 cm, berkulit gelap, berambut ikal. membawa tas besar seperti hendak pulang kampung. Agak gendut.
3. Yang pura-pura dipijit = tinggi sekitar 165 cm, berkulit gelap, berambut lurus, menggunakan topi, membawa tas besar juga, kurus.
Saya kira mereka biasanya tidak beroperasi di kendaraan umum yang biasa saya naiki. Karena waktu ditanya saya orang mana, saya jawab nama daerah saya yang mana banyak sekali orang daerah situ yang menjadi awak (supir/kernet) metromini 79, tetapi si perampas ini sama sekali tidak menunjukkan rasa enggan.
Mudah-mudahan 2 modus yang saya ceritakan ini bisa teman-teman hindari selama berkendaraan umum di Jakarta. Baik metro mini, mikrolet, sampai bus kota.
XoXo

Wednesday, November 18, 2009

Merpati yang Dilepas dari Bilik Perahu

1.
dari dadaku, dari bilik perahu, kulepas engkau.
biar pada cabang hijau zaitun, kaupegang ketabahan
yang menahun.

laiknya bandang yang menggunung, terbanglah
engkau! terbang mengatasi banjir yang tak surut,
kerinduan dan sepi yang tak bisa larut. tak akan
pernah bisa.

aku tak akan pernah jadi nuh, sampai kau tempuh
penerbangan perdanamu setelah hujan panjang ini.

2.
dengan cintaku, di lunas perahu, kau kutunggu.
sampai kaubawa pulang sehelai daun. sehelai saja!

larik-larik hujan sudah hilang. cepat pulanglah kau!
bawa berita tentang dermaga sederhana, huma
terbuka dan rindang kamboja untuk nisanku.

hingga namaku dan namamu dapat kutulis
sebagai pesan. Sebagai kiasan akan kebahagiaan.

2009

Tuesday, November 17, 2009

Beliung

patahkan akar kesetiaan, Teman
karena angin lebih sering mengguncang
atap rumah.

galilah lebih dalam kesabaran
meski hujan dan daun-daun menutupi tanah.

kami berpegang padamu, Teman
pada lahan terbuka dan alang-alang.

agar kami dapat belajar dengan benar
pada batu, lumpur, dan akar tunjang.

2009

Refreshment

Novel saya ini sudah terbit bulan Juli lalu, tetapi belum sekalipun dilaunching.
Bulan ini saya mau memperkenalkan kembali novel saya ini di acara Reboan.
Bagi yang belum menemukan, bisa dilacak di Toga Mas terdekat, sedangkan
di Jakarta sementara baru ada di Gramedia Matraman dan TM Bookstore -
Poins Square Lebak Bulus.

Semoga menyenangkan ... Buat penggemar puisi Bang Hasan Aspahani,
di novel ini bertebaran petikan-petikan puisi beliau ..

Sunday, November 15, 2009

Maktab

1.
di luar kita - katamu - sudah terlalu banyak perahu
disesatkan suar, terlalu sesak pejalan kaki ditipu
trotoar, dan ada banyak malam tidur telanjang tanpa bulan.

sebab itu, kau tulis ulang isi kitab pada jendela,
di mana pucat pantai beradu temaram cahaya kota
hingga pias wajah bulan terbelah dua.

lalu kau selipkan sesudu rindu di muka pintu, mungkin
masih ada sadak jejak sepatu - serupa kenangan yang
timpang dan terguncang sepanjang jalan.

"agar mereka tak pernah lupa jalan pulang", katamu.

2.
lalu kau hapus nama-nama di kitabmu; nama pahlawan,
nama pejuang, dan nama mereka yang terbunuh
dalam diam.

namun kau tak pernah menghapus namanya, pelancong yang
datang di suatu malam bertahun silam. "harus ada yang
mesti disalahkan dari hari-hari
yang lelah berlari", katamu.

dan kenangan, tetaplah pembunuh ulung! setelah kau bubuhkan
tanda tangan-di halaman kitab paling belakang- kau menghilang.

tinggal pendar bulan mengiris-iris dinding kamar.


2009

Facebook in Google