Kaukah yang membakar sepi di sini?
Aku hanya gelisah yang menanti.
Lewat pijarmu, ada hal-hal yang selalu
tampak terang dan samar. Seperti malam
dalam mimpi-mimpiku. Seperti kelam
yang semakin menjangkau aku.
Dan kaukah juga itu? Yang kukira mengada
di antara bayang dan gelap ruang. Karena
aku mulai lelah, dilelehkan bara waktu.
Sementara kau tepis hembus dingin,
tubuhku semakin hangus.
2009
Tuesday, November 10, 2009
Thursday, November 05, 2009
Sajak untuk Sang Penari
1.
Raga siapa yang setiap geraknya
adalah lebam dentam kendang
dan piuh temali kecapi?
Selubung kain panjang, riap rambut,
dan gerai selendang menggerakkan
sesuatu yang lain daripadaku.
Hanya jika setetes keringat melunturkan pupur
di kedua pipi, wajahku terlahir kembali di situ.
2.
Siapakah dia yang memutar
pusaran waktu seperti luwes
kibas kipas di tangannya?
Jemarinya seperti tangkai hujan menyapu
pelataran candi, sedang pinggulnya lontar sepi
yang ditulis kembali oleh bayang-bayang.
Akulah yang tak berpayung,
menggigil oleh basah angin sunyi.
3.
Kerling siapa yang menikamkan
kembali karat khianat pada malam
yang sarat menanggung bulan?
Adalah sepasang mata - tak sedang mengamati
aku yang menanti datangnya Sang Mati - merayu
jiwaku untuk terus bersemadi di sini.
Agar kutemukan kembali bilah berkilau
dari Engkau yang selama ini kucari.
2009
Raga siapa yang setiap geraknya
adalah lebam dentam kendang
dan piuh temali kecapi?
Selubung kain panjang, riap rambut,
dan gerai selendang menggerakkan
sesuatu yang lain daripadaku.
Hanya jika setetes keringat melunturkan pupur
di kedua pipi, wajahku terlahir kembali di situ.
2.
Siapakah dia yang memutar
pusaran waktu seperti luwes
kibas kipas di tangannya?
Jemarinya seperti tangkai hujan menyapu
pelataran candi, sedang pinggulnya lontar sepi
yang ditulis kembali oleh bayang-bayang.
Akulah yang tak berpayung,
menggigil oleh basah angin sunyi.
3.
Kerling siapa yang menikamkan
kembali karat khianat pada malam
yang sarat menanggung bulan?
Adalah sepasang mata - tak sedang mengamati
aku yang menanti datangnya Sang Mati - merayu
jiwaku untuk terus bersemadi di sini.
Agar kutemukan kembali bilah berkilau
dari Engkau yang selama ini kucari.
2009
Friday, October 30, 2009
Kuterka Bunga di Tanganmu
kubaca lagi isyarat bunga di jari-jarimu
seperti mengurai jerat pemikat lebah madu
meski cahaya hanya ungu, pandangku menyeligi
kuntum mahkota, pucuk putik, dan benangsari
sampai kujumpa sakar nektar di rahim ovari,
dalam kenangan yang tak sudah sepanjang hari
hingga kubaca lagi, dan lagi, getar jemarimu
saat kautabur bunga-bunga itu atas nisanku.
2009
Tuesday, October 20, 2009
Kepada Penjual Bunga Tabur
Sampai aku dipertemukan denganmu,
ada yang selalu ragu bahkan hanya untuk
sekedar bertanya, "Berapa kuntum mawar
yang pantas dalam satu kantung melati untuk
kutebarkan di atas kuburku?"
Dan ketika tanganmu menakar bunga,
kubayangkan tangan maut mengapai-gapai
di atas kepala, di dalam dada, hingga
kukatakan padamu, " Tak perlu kenanga,
atau cempaka. Cukup mawar dan melati saja."
Aku - sebagaimana maut - melangkah tergegas.
Ah, seperti juga engkau, bukan? Yang membuat
kenangan bertunas, berkembang, dan akhirnya
di musim seperti ini, berguguran dedaunannya.
Sebentar lagi sampai ke pintu makam, di mana
lengkung tangan maut telah selesai memagut,
dan selepasnya akan kutemukan sejumlah nama
yang sering disirami dan ditebari bunga-bunga
kesedihan, kerinduan, dan kerelaan.
Dan di sana, sebelum kutaburkan sekantung
bunga ini, akan kuingat kembali tanganmu
: tangan yang kerap membelai tepi waktu.
2009
ada yang selalu ragu bahkan hanya untuk
sekedar bertanya, "Berapa kuntum mawar
yang pantas dalam satu kantung melati untuk
kutebarkan di atas kuburku?"
Dan ketika tanganmu menakar bunga,
kubayangkan tangan maut mengapai-gapai
di atas kepala, di dalam dada, hingga
kukatakan padamu, " Tak perlu kenanga,
atau cempaka. Cukup mawar dan melati saja."
Aku - sebagaimana maut - melangkah tergegas.
Ah, seperti juga engkau, bukan? Yang membuat
kenangan bertunas, berkembang, dan akhirnya
di musim seperti ini, berguguran dedaunannya.
Sebentar lagi sampai ke pintu makam, di mana
lengkung tangan maut telah selesai memagut,
dan selepasnya akan kutemukan sejumlah nama
yang sering disirami dan ditebari bunga-bunga
kesedihan, kerinduan, dan kerelaan.
Dan di sana, sebelum kutaburkan sekantung
bunga ini, akan kuingat kembali tanganmu
: tangan yang kerap membelai tepi waktu.
2009
Monday, October 19, 2009
Membacamu, Puisi
1/
ada yang tertabur serupa bunga di atas nisan,
di sela isak tangis dan peluk tak bermakna lain
kecuali "relakanlah, relakanlah, relakan..."
lalu kau menulis ulang kisah yang tak pernah
hadir di mimpimu sendiri. kisah yang selalu
menjelmakan seorang kekasih, pencinta yang
namanya tertulis pada epitaf
dengan sebaris kata lainnya.
2/
aku adalah orang yang terakhir pulang dari
pemakaman. berpayung hitam, dan merasakan
begitu murung musim. betapa dingin kepak burung.
sedang kau angin yang menderu.
memanggil pulang ke rumah ibu.
3/
yang tak pernah terbaca olehku - dan mungkin
terlewatkan juga olehmu - hanya rangkaian bunga
yang mulai lepas satu per satu kelopaknya.
seakan mereka yang tadi berkata;
"relakanlah, relakanlah, relakan ..."
2009
ada yang tertabur serupa bunga di atas nisan,
di sela isak tangis dan peluk tak bermakna lain
kecuali "relakanlah, relakanlah, relakan..."
lalu kau menulis ulang kisah yang tak pernah
hadir di mimpimu sendiri. kisah yang selalu
menjelmakan seorang kekasih, pencinta yang
namanya tertulis pada epitaf
dengan sebaris kata lainnya.
2/
aku adalah orang yang terakhir pulang dari
pemakaman. berpayung hitam, dan merasakan
begitu murung musim. betapa dingin kepak burung.
sedang kau angin yang menderu.
memanggil pulang ke rumah ibu.
3/
yang tak pernah terbaca olehku - dan mungkin
terlewatkan juga olehmu - hanya rangkaian bunga
yang mulai lepas satu per satu kelopaknya.
seakan mereka yang tadi berkata;
"relakanlah, relakanlah, relakan ..."
2009
Subscribe to:
Posts (Atom)





